Minggu, 28 April 2013

Gambang




Jika kesempatannya tepat, sesekali di pendopo CINDE Nest dapat disediakan sebuah instrumen musik tradisional Jawa yang disebut gambang. Di sore hari, suasana rehat akan indah sekali jika dihiasi oleh  suara gambang.

Gambang adalah salah satu instrumen dalam perangkat musik tradisional gamelan.  Terdiri dari bilah-bilah dari kayu (terutama pada umumnya) atau perunggu (khusus gambang di dalam kraton) yang dijajarkan pada kerangka wadah berongga yang merupakan resonator. Panjang bilah tidak sama, untuk menghasilkan nada suara yang berbeda. Jumlah bilah dalam satu set gambang umumnya antara 18-20, meliputi dua oktaf. Ada tiga jenis gambang berdasarkan warna suaranya:  (1) gambang slendro, (2) gambang pelog barang, dan (3) gambang pelog nem.



Gambang dibunyikan dengan dipukul. Penabuh memegang alat pukul gambang pada dua belah tangan, kanan dan kiri. Tangan kanan memukul bilah nada satu oktaf lebih tinggi daripada bilah yang yang secara bersamaan dipukul tangan kiri. Berbeda dari instrumen gamelan lainnya seperti slenthem, demung dan saron (disebut golongan instrumen balungan karena kerangka wadah ruang resonatornya), gambang dipukul dengan frekuensi (kekerapan) pukulan yang lebih tinggi, tergantung pada jenis irama lagu.
 
Frekuensi pukulan pada gambang adalah sama dengan frekuensi pukulan pada instrumen yang disebut gender penerus dan frekuensi petik pada siter. Dalam irama lagu “lancar”, satu pukulan balungan setara dengan dua pukulan gambang.  Irama lagu “tanggung”, satu pukulan balungan = 4 pukulan gambang. Irama lagu “dadi”, satu pukulan balungan = 8 pukulan gambang. Irama lagu “wiled”, satu pukulan balungan = 16 pukulan gambang. Irama lagu “rangkep”, satu pukulan balungan = 32 pukulan gambang. Karena menggunakan kedua belah tangan dengan frekuensi aktivitas yang tinggi, maka penabuh gambang harus sungguh-sungguh trampil. 


Biasanya, suara gambang dipandu oleh instrumen lain, yaitu instrumen gesek rebab, atau oleh nyanyian vokalis. Dengan kata lain, gambang mengikuti suara-suara gesekan rebab atau vokalis, utamanya dalam “gending”, “phatetan” atau “sulukan”. Hanya dalam “ada-ada” gambang diam, tidak dibunyikan.   


Tidak ada komentar:

Posting Komentar