Jika kesempatannya tepat, sesekali di
pendopo CINDE Nest dapat disediakan sebuah instrumen musik tradisional Jawa
yang disebut gambang. Di sore hari, suasana rehat akan indah sekali jika
dihiasi oleh suara gambang.
Gambang adalah salah satu instrumen dalam perangkat musik tradisional gamelan. Terdiri dari bilah-bilah dari kayu (terutama
pada umumnya) atau perunggu (khusus gambang di dalam kraton) yang dijajarkan pada kerangka wadah berongga yang merupakan resonator. Panjang bilah tidak
sama, untuk menghasilkan nada suara yang berbeda. Jumlah bilah dalam
satu set gambang umumnya antara 18-20, meliputi dua
oktaf.
Ada tiga jenis gambang berdasarkan warna suaranya: (1) gambang slendro, (2) gambang pelog barang, dan (3) gambang pelog nem.
Gambang dibunyikan dengan dipukul. Penabuh memegang alat pukul gambang pada dua belah tangan, kanan dan kiri.
Tangan kanan memukul bilah nada satu oktaf lebih tinggi daripada bilah yang
yang secara bersamaan dipukul tangan kiri. Berbeda dari instrumen gamelan lainnya
seperti slenthem, demung dan saron (disebut
golongan instrumen balungan karena kerangka wadah ruang resonatornya), gambang dipukul
dengan frekuensi (kekerapan) pukulan yang lebih tinggi, tergantung pada jenis irama lagu.
Frekuensi pukulan pada gambang adalah
sama dengan frekuensi pukulan pada instrumen yang disebut gender penerus dan
frekuensi petik pada siter. Dalam irama lagu “lancar”, satu pukulan balungan
setara dengan dua pukulan gambang. Irama lagu “tanggung”, satu pukulan balungan = 4 pukulan
gambang. Irama lagu “dadi”, satu pukulan balungan = 8 pukulan gambang. Irama
lagu “wiled”, satu pukulan balungan = 16 pukulan gambang. Irama lagu “rangkep”,
satu pukulan balungan = 32 pukulan gambang. Karena menggunakan kedua belah
tangan dengan frekuensi aktivitas yang tinggi, maka penabuh gambang harus sungguh-sungguh
trampil.
Biasanya, suara gambang dipandu oleh
instrumen lain, yaitu instrumen gesek rebab, atau oleh nyanyian vokalis. Dengan
kata lain, gambang mengikuti suara-suara gesekan rebab atau vokalis, utamanya
dalam “gending”, “phatetan” atau “sulukan”. Hanya dalam “ada-ada” gambang diam,
tidak dibunyikan.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar